Kucing yang Saling Menjilat Belum Tentu Sedang Bermain, Ini Penjelasan Ilmiahnya!
Pernah melihat dua kucing duduk berdampingan, lalu salah satunya mulai menjilati kepala atau leher temannya? Sekilas, perilaku itu terlihat seperti bentuk kasih sayang sederhana. Namun di balik gerakan kecil tersebut, ternyata ada mekanisme sosial yang cukup kompleks.
Para ilmuwan menyebut perilaku ini sebagai allogrooming, yaitu kebiasaan hewan merawat atau membersihkan individu lain. Pada kucing, perilaku ini bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga berkaitan dengan hubungan sosial, ketegangan, hingga kemungkinan menjadi cara untuk mencegah konflik.
Penelitian terbaru yang dilakukan Morgane Van Belle, ilmuwan perilaku kucing dari Ghent University, Belgia, bersama rekan-rekannya, menemukan bahwa allogrooming dapat memiliki fungsi yang berbeda tergantung situasinya. Tim tersebut menganalisis rekaman perilaku saling menjilat dari 53 rumah yang masing-masing memiliki dua kucing.
Warisan dari Induk Sejak Hari Pertama Kehidupan
Kebiasaan menjilat sesama kucing sebenarnya berakar dari perilaku grooming yang sudah dilakukan sejak mereka lahir. Induk kucing menjilati anak-anaknya sebagai bagian dari perawatan dan kebersihan.
Ketika dewasa, perilaku grooming berkembang menjadi salah satu bentuk interaksi sosial. Karena itu, saling menjilat kerap ditemukan pada kucing yang hidup bersama dan memiliki hubungan sosial tertentu.
Pandangan lama mengenai allogrooming, berdasarkan pengamatan terhadap koloni kucing yang hidup bebas, memang menganggap perilaku ini sebagai tanda kasih sayang. Saling grooming dipercaya membantu kucing membangun dan mempertahankan ikatan dengan anggota kelompoknya, bahkan kemungkinan menciptakan aroma kelompok yang sama.
Namun, penelitian berikutnya menunjukkan bahwa maknanya ternyata tidak sesederhana itu.
Tanda Persahabatan dan Kepercayaan
Dalam penelitian Van Belle, para peneliti menemukan bahwa kucing terkadang saling menjilat ketika mereka sedang berdekatan dan meniru postur tubuh satu sama lain.
Dalam situasi seperti ini, allogrooming kemungkinan memang berfungsi untuk memperkuat ikatan sosial.
Menariknya, bagian tubuh yang paling sering menjadi sasaran jilatan adalah telinga. Menurut Van Belle, kulit di sekitar telinga kaya akan ujung saraf sensorik sehingga jilatan di area tersebut mungkin membantu kucing merasa lebih rileks.
Efek menenangkan dari grooming juga ditemukan pada hewan lain. Pada kuda, misalnya, perilaku grooming diketahui dapat menurunkan detak jantung. Sementara pada monyet, grooming berkaitan dengan pelepasan hormon yang menimbulkan rasa nyaman.
Dengan demikian, ketika dua kucing terlihat santai sambil saling menjilati, terutama di bagian telinga dan kepala, interaksi tersebut kemungkinan memang menjadi cara mereka menikmati kedekatan satu sama lain.
Dari Menjilat Bisa Berlanjut Jadi Bermain
Perilaku allogrooming ternyata juga dapat menjadi awal dari aktivitas lain.
Van Belle dan timnya mengamati bahwa sesi saling menjilat terkadang berlanjut menjadi gulat-gulatan yang bersahabat. Kucing saling menangkap dengan kaki depan, kemudian berguling dan bermain bersama.
Pola tersebut membuat para peneliti menduga bahwa allogrooming juga dapat berfungsi sebagai sinyal untuk memulai permainan.
Jadi, jika kucing yang awalnya terlihat sedang bermesraan tiba-tiba bergulat, belum tentu mereka sedang bertengkar. Bisa saja sesi grooming tersebut memang menjadi pembuka untuk bermain.
Tetapi, Kadang Ada Ketegangan di Baliknya
Di sinilah perilaku kucing menjadi lebih menarik.
Penelitian Van Belle juga menemukan situasi ketika saling menjilat justru diikuti perilaku yang berkaitan dengan konflik. Beberapa kucing kemudian menarik telinga ke belakang, menggunakan kaki untuk mendorong atau mencakar, bahkan menggigit.
Dalam situasi tersebut, salah satu kucing terkadang berdiri atau membungkuk di atas kucing lainnya. Kedua kucing juga menunjukkan tanda-tanda stres yang lebih halus, seperti menjilat bibir, menggelengkan kepala, atau menggaruk tubuh sendiri.
Temuan ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Sebuah penelitian pada 1998 terhadap 25 kucing yang hidup bersama dalam kandang dengan akses dalam dan luar ruangan menemukan perilaku agresif dalam sekitar 35 persen sesi allogrooming.
Temuan tersebut membuat para peneliti mempertanyakan anggapan bahwa saling menjilat selalu merupakan tanda persahabatan. Dalam kondisi tertentu, perilaku tersebut justru mungkin membantu mengurangi ketegangan di lingkungan yang terbatas, ketika perkelahian terbuka terlalu berisiko.
Bisa Jadi Cara Kucing Mencegah Perkelahian
Berdasarkan pengamatan tersebut, Van Belle dan rekan-rekannya menduga bahwa allogrooming dalam situasi tegang dapat berfungsi sebagai “appeasement signal”, atau sinyal untuk meredakan ketegangan.
Misalnya, ketika seekor kucing ingin mengambil tempat tidur yang sedang ditempati kucing lain. Situasi semacam ini berpotensi memicu konflik. Namun, alih-alih langsung menyerang, interaksi grooming mungkin membantu menenangkan situasi sehingga perselisihan tidak berkembang menjadi perkelahian.
Perilaku serupa bahkan pernah ditemukan pada meerkat. Individu yang berada pada posisi lebih rendah dalam hierarki sosial dapat melakukan grooming terhadap individu dominan untuk meredakan ketegangan.
Dengan kata lain, dalam situasi tertentu, jilatan kucing mungkin lebih dekat dengan pesan “tenang, jangan berkelahi” daripada sekadar “aku menyayangimu”.
Namun Bisa Juga Menyimpan Sinyal Agresif
Ada sisi lain yang tidak kalah menarik.
Van Belle dan timnya mencatat bahwa jilatan sering diarahkan ke bagian leher, area yang juga menjadi sasaran gigitan ketika kucing berkelahi.
Karena itu, para peneliti menduga bahwa dalam konteks tertentu, jilatan pada leher juga mungkin membawa sinyal ancaman agresif yang sangat halus.
Inilah alasan mengapa perilaku kucing tidak bisa dipahami hanya dari satu gerakan. Dua kucing yang sama-sama menjilati leher mungkin sedang menunjukkan kedekatan, tetapi bisa pula sedang berada dalam situasi sosial yang lebih rumit.
Konteks menjadi sangat penting: bagaimana posisi tubuh mereka, bagaimana gerakan telinganya, apa yang dilakukan setelah grooming, dan apakah ada tanda-tanda stres atau agresi.
Bukan Hanya Soal Kebersihan
Di luar fungsi sosial, allogrooming kemungkinan juga memiliki manfaat praktis.
Van Belle dan rekan-rekannya menduga bahwa saling menjilat dapat membantu menjaga kebersihan tubuh. Alasannya, grooming sering diarahkan ke kepala dan leher, bagian yang relatif sulit dijangkau kucing ketika membersihkan tubuhnya sendiri.
Fungsi kebersihan semacam ini juga ditemukan pada hewan lain. Semut, misalnya, menggunakan grooming sebagai bagian dari mekanisme menjaga kebersihan koloni. Sementara pada primata, grooming lebih banyak diarahkan ke bagian tubuh yang sulit dijangkau oleh individu yang sedang dirawat.
Namun, khusus pada kucing, fungsi kebersihan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Studi Van Belle tidak secara langsung mengukur apakah allogrooming benar-benar mengurangi parasit, infeksi, atau kotoran pada kulit dan bulu kucing.
Terry Curtis: Jawabannya Belum Tentu Sesederhana Itu
Dr. Terry Curtis, seorang ahli perilaku veteriner yang juga telah mempelajari seberapa sering allogrooming terjadi pada kucing, turut memberikan pandangan mengenai temuan tersebut.
Curtis menilai berbagai penjelasan yang diajukan Van Belle dan rekan-rekannya masuk akal. Namun, ia mengingatkan bahwa penjelasan tersebut belum dapat dianggap sebagai jawaban definitif.
Menurut Curtis, terlalu banyak faktor yang dapat memengaruhi perilaku kucing. Karena itu, tidak mudah untuk memastikan secara tepat apa yang sedang terjadi dalam pikiran seekor kucing ketika ia menjilati kucing lainnya.
Pengalamannya selama 25 tahun sebagai ahli perilaku veteriner justru membuatnya semakin menyadari betapa misteriusnya perilaku kucing.
Dan mungkin, di situlah daya tarik mereka.
Jadi, Mengapa Kucing Saling Menjilat?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana “karena mereka saling menyayangi”.
Menurut temuan Van Belle dan rekan-rekannya, allogrooming kemungkinan memiliki beragam fungsi, mulai dari memperkuat ikatan sosial, memberikan efek menenangkan, menjadi sinyal untuk memulai permainan, membantu meredakan ketegangan, hingga kemungkinan menyampaikan ancaman secara halus.
Perilaku tersebut juga mungkin membantu menjaga kebersihan bagian tubuh yang sulit dijangkau sendiri. Namun, para peneliti menekankan bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk benar-benar memahami fungsi grooming pada kucing.
Jadi, lain kali ketika melihat dua kucing saling menjilati, jangan buru-buru menganggap mereka hanya sedang menunjukkan kasih sayang.
Perhatikan apa yang terjadi setelahnya.
Apakah mereka tetap santai? Apakah kemudian bermain dan bergulat? Atau salah satunya mulai menunjukkan tanda-tanda stres dan agresi?
Sebab dalam dunia kucing, satu jilatan bisa menyimpan banyak pesan—dari persahabatan hingga upaya mencegah perkelahian.
Sumber: https://www.livescience.com/animals/cats/why-do-cats-lick-each-other

Komentar
Posting Komentar