Cuaca Ekstrem, Petani AS Beralih ke Serealia Super Tahan Iklim Ini!
Di tengah meningkatnya frekuensi kekeringan dan hujan ekstrem akibat perubahan iklim, sejumlah petani di Amerika Serikat mulai mencoba pendekatan baru untuk menjaga produktivitas lahan mereka: menanam biji-bijian tahunan menahun (perennial grains) yang hanya perlu ditanam sekali untuk beberapa tahun. Salah satu yang paling banyak mendapat perhatian adalah Kernza, tanaman serealia yang dinilai lebih tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem dibandingkan gandum konvensional.
Bryce Black, petani generasi keempat di Kansas, merasakan langsung dampak perubahan iklim. Setelah hujan yang cukup pada akhir 2025, ia optimistis menghadapi musim tanam gandum musim dingin. Namun, musim dingin dan musim semi yang sangat kering menyebabkan kekeringan parah saat tanaman membutuhkan air untuk tumbuh. Hasil panennya pun menjadi yang terendah sejak ia mengambil alih usaha keluarga pada 2017.
Kondisi seperti itu mendorong banyak petani mencari alternatif yang lebih tangguh. Salah satu pilihan yang mulai dilirik adalah tanaman serealia perennial, yaitu tanaman yang tidak perlu ditanam ulang setiap tahun. Berbeda dengan gandum, jagung, atau sorgum yang harus ditanam kembali setiap musim, tanaman perennial dapat bertahan dan berproduksi selama beberapa tahun setelah satu kali penanaman.
Apa Itu Kernza?
Kernza merupakan salah satu jenis serealia perennial yang dikembangkan oleh lembaga riset pertanian Amerika, The Land Institute. Tanaman ini berasal dari kerabat rumput liar yang tumbuh di Eropa dan Asia Barat.
Keunggulan utama Kernza terletak pada sistem perakarannya yang sangat dalam. Akar tanaman ini dapat menembus tanah hingga beberapa meter, memungkinkan tanaman mengambil air dari lapisan tanah yang lebih dalam saat terjadi kekeringan. Saat hujan deras, akar tersebut juga mampu menyerap lebih banyak air sehingga mengurangi limpasan dan erosi tanah.
Selain itu, akar yang dalam membantu menyimpan karbon di dalam tanah lebih lama. Dengan demikian, tanaman ini tidak hanya mendukung produktivitas lahan, tetapi juga berkontribusi dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Lebih Hemat Biaya dan Ramah Lingkungan
Petani Kansas lainnya, David Mueller, telah menanam Kernza sejak 2018. Ia memanfaatkan tanaman tersebut untuk memperbaiki kondisi lahan yang mengalami masalah drainase dan penurunan bahan organik.
Menurut Mueller, kebutuhan pupuk Kernza hanya sekitar sepertiga dari kebutuhan gandum biasa. Karena tidak perlu ditanam ulang setiap tahun, penggunaan alat dan mesin pertanian juga berkurang, sehingga biaya bahan bakar dan tenaga kerja dapat ditekan.
Para peneliti menilai sistem pertanian berbasis tanaman perennial dapat menjadi solusi penting untuk menjaga kesehatan tanah. Berbeda dengan sistem pertanian tahunan yang melibatkan pengolahan tanah berulang kali, tanaman perennial mampu mempertahankan struktur tanah dan mengurangi degradasi lahan dalam jangka panjang.
Masih Menghadapi Banyak Tantangan
Meski menjanjikan, pengembangan tanaman serealia perennial masih menghadapi berbagai kendala. Produksi Kernza saat ini baru mencapai sekitar 20–40 persen dari hasil gandum konvensional di wilayah yang sama. Hal itu terjadi karena tanaman harus membagi energinya untuk menghasilkan biji sekaligus mempertahankan sistem akar yang besar agar dapat hidup lebih dari satu musim.
Tantangan lain adalah proses panen yang lebih rumit karena ukuran biji Kernza lebih kecil dibandingkan gandum. Peneliti masih terus menyempurnakan teknologi budidaya dan peralatan panen agar produktivitasnya meningkat.
Di sisi pasar, permintaan juga masih terbatas. Meski demikian, harga Kernza relatif tinggi dan dapat mencapai lima hingga sepuluh kali harga gandum biasa karena pasokannya masih sedikit. Beberapa produk berbahan Kernza seperti tepung, campuran roti, dan bir mulai diperkenalkan kepada konsumen.
Potensi untuk Masa Depan Pertanian
Sejumlah negara di Asia Tenggara dan Afrika bahkan mulai mengembangkan padi perennial yang dapat dipanen lebih dari sekali tanpa harus melakukan tanam ulang setiap musim. Sementara itu, berbagai program penelitian terus dilakukan untuk mengembangkan versi perennial dari gandum, sorgum, hingga padi.
Bagi banyak petani, terutama yang semakin sering menghadapi kekeringan dan banjir akibat perubahan iklim, tanaman perennial menawarkan harapan baru. Meski belum mampu menggantikan tanaman pangan utama saat ini, teknologi tersebut dipandang sebagai salah satu langkah penting untuk membangun sistem pertanian yang lebih tangguh, efisien, dan berkelanjutan di masa depan.
Sumber: https://abcnews.com/US/wireStory/farmers-turn-perennial-grains-solution-extreme-weather-136201026
Komentar
Posting Komentar